
Aku pribadi kurang sepakat dengan kesimpulan yang secara implisit menggambarkan pria sebagai pihak yang “menyedihkan”.
Buatku, pria tidak sesederhana itu untuk diberi label demikian. Yang keliru justru cara kita membaca realitas, kita sering mencampuradukkan antara tekanan hidup yang sifatnya personal dengan ketimpangan yang memang struktural. Capek sering terasa seperti tidak adil, padahal keduanya tidak selalu sama.
Aku tidak menutup mata, banyak pria hidup dalam tekanan. Mereka dituntut harus mapan, harus kuat, tidak boleh gagal, bahkan sering tidak punya ruang untuk terlihat rapuh. Banyak yang bekerja keras bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk keluarga. Dan itu memang berat.
Tapi aku juga merasa itu tidak otomatis berarti mereka adalah pihak yang paling dirugikan dalam sistem.
Kalau dilihat lebih luas, dari dulu banyak sistem memang dibangun dengan pria sebagai titik acuan. Akses terhadap pendidikan, ruang publik, kepemilikan, sampai kebebasan bergerak, semuanya lebih dulu dan lebih mudah dijangkau oleh pria.
Dan yang sering luput, hal-hal yang terasa “normal” bagi pria itu sebenarnya bentuk kemudahan yang sudah lama ada. Misalnya, bisa pulang malam tanpa rasa takut berlebih. Bisa berbicara tegas tanpa langsung dianggap emosional. Tidak terus-menerus dinilai dari penampilan atau status pribadi.
Hal-hal seperti itu mungkin terasa biasa saja, tapi tidak semua orang punya.
Di sisi lain, perempuan masih harus berjuang untuk hal-hal yang seharusnya sudah selesai sejak lama. Rasa aman. Kendali atas tubuh sendiri. Kesempatan yang setara. Bahkan sekadar didengar tanpa diremehkan.
Aku pernah membaca bagaimana Simone de Beauvoir menyebut perempuan sebagai “the Other”, sebagai pihak kedua. Dan di situ aku merasa masuk akal kenapa banyak perempuan harus berjalan lebih jauh hanya untuk sampai di titik yang sama.
Bell hooks juga pernah bilang bahwa sistem patriarki itu tidak hanya menekan perempuan, tapi juga membentuk laki-laki. Bedanya, laki-laki didorong untuk memenuhi ekspektasi, tapi jarang benar-benar dihalangi untuk masuk ke ruang yang sama.
Narasi dalam cuitan tadi menurutku jadi terasa kurang tepat. Ia seperti menempatkan pria sebagai korban utama, tanpa benar-benar membedakan antara “dibebani” dan “dihambat”. Pria mungkin dibebani untuk menjadi mapan, tapi mereka tidak secara sistematis dicegah untuk mencapainya. Sementara perempuan, dalam banyak situasi, bahkan harus menghadapi hambatan sejak awal.
Kalimat “pria tidak akan sanggup jadi perempuan” buatku tidak terdengar seperti serangan. Lebih seperti pengingat bahwa ada pengalaman yang tidak semua orang lihat, apalagi rasakan. Ada kompleksitas yang mungkin dari luar tidak nampak.
Dan ketika pria menjawab “sepakat”, mungkin itu karena mereka sadar, ada realitas yang memang bukan bagian dari hidup mereka.
“pria tidak pernah dirayakan”
Kalau mau dipikir lagi, banyak standar keberhasilan di dunia ini justru dibangun dari perspektif pria. Posisi, pengakuan, bahkan definisi sukses sering mengarah ke sana.
Jadi buatku, pria tidak menyedihkan.
Mereka hanya manusia. Bisa capek, bisa bingung, bisa merasa gagal. Tapi di saat yang sama, mereka juga masih berada di posisi yang dalam banyak hal, lebih dimudahkan sejak awal.
Yang lebih penting adalah keberanian untuk jujur melihat: siapa yang harus berjuang lebih keras hanya untuk sampai di titik yang sama.
Untuk hari ini, itu masih lebih sering perempuan.
Leave a comment