Seharusnya siang ini aku melanjutkan beberapa pekerjaan dan proyek pribadi yang belum terselesaikan, tapi malah terbaring, bertanya-tanya apakah aku akan pernah cukup layak untuk dicintai sedalam itu.
“Orang seperti kamu memang pantas ditinggalkan” kata seseorang, 13 tahun lalu. Aku sudah tidak mau mengingat wajahnya, tapi aku masih mengingat kalimat itu sampai sekarang. Setelah 13 tahun berlalu, aku masih membawanya. Dan mungkin benar, aku memang pantas.
Aku memutar kalimat itu di kepalaku seperti sesuatu yang memang milikku. Ia berulang sampai terdengar benar. Tidak melihat diriku dengan siapa pun perlahan menjadi sesuatu yang bisa dipercaya, dan untuk waktu yang lama, itu memang begitu adanya. Alasanku adalah bahwa aku bukan orang yang tepat untuk sebuah hubungan, bahwa aku tidak bisa menjadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh orang lain.
Aku menjadikannya lelucon. Terus-menerus. Aku mengubahnya menjadi sesuatu yang ringan, sesuatu yang bisa diabaikan, sesuatu yang tidak perlu terlalu lama tinggal di kepalaku, sampai lelucon itu berhenti terasa seperti lelucon, dan aku tidak bisa lagi mengingat kapan ia berhenti menjadi lucu.
Dan tetap saja, di siang hari yang seharusnya penuh aktivitas, aku malah terdiam dan mengabaikan semua yang kukatakan pada diriku di waktu lain. Semua versi kuat dari diriku seakan hanya hidup di waktu-waktu tertentu, lalu menghilang ketika aku benar-benar membutuhkannya. Aku berpikir apakah aku memang ditakdirkan untuk merasakan ini selamanya.
Kalau memang begitu, aku ingin mengakhirinya dengan elegan.
Setiap hari, aku terbangun sangat pagi, memulai aktivitasku saat matahari belum terbit. Ada sesuatu yang terasa lebih jujur di jam-jam itu, saat dunia belum terlalu bising, saat tidak ada yang benar-benar menuntut apa pun dariku. Aku memastikan hari-hariku berjalan sampai pada batas terbaik yang bisa aku berikan. Aku mencoba melakukan semuanya dengan benar, atau setidaknya terlihat benar.
Aku mulai memperhatikan apa yang aku konsumsi, apa yang aku lakukan, bagaimana aku menghabiskan waktu.
Ada bagian dari diriku yang ingin menjadi lebih bersih, lebih ringan, seolah-olah dengan begitu aku bisa meninggalkan sesuatu tanpa meninggalkan terlalu banyak jejak.
Aku berdoa kepada Tuhan dengan cara yang mungkin tidak pernah benar-benar aku pahami. Tapi cukup untuk membuatku merasa bahwa aku sedang berbicara dengan sesuatu yang lebih besar dari diriku.
Aku ingin pulang dengan cara yang elegan, tanpa menyakiti diri sendiri. Aku bilang kepada-Nya bahwa aku sudah siap kapan pun. Dan sampai saat itu tiba, aku hanya meminta satu hal: bahwa Dia cukup mengambil saja keinginanku untuk dicintai.
Leave a comment