
Tadi pagi, ketika aku lagi memotong semangka di dapur yang terasa hangat. Aku berdiri di sana, mengiris buah merah terang itu, dan yang ada di kepalaku cuma: “gimana kalau aku nusuk diri sendiri pakai pisau ini?”
Pikiran itu tidak teriak. Tidak datang seperti badai. Dia cuma muncul begitu saja, pelan, santai, seolah memang tempatnya di situ. Satu momen aku lagi motong buah, momen berikutnya aku membayangkan diriku berdarah di lantai dapur. Dan itu yang paling menakutkan: betapa normal rasanya.
Aku tidak tersentak. Tidak berhenti. Aku cuma lanjut saja, seolah pikiran itu cuma suara latar, seperti bernapas.
Karena jujur saja, memang begitu. Pikiran-pikiran seperti ini mengikuti aku ke mana-mana. Mereka tidak menunggu momen gelap; mereka datang bahkan di saat-saat yang baik juga. Saat tertawa, saat kena sinar matahari, saat mengerjakan hal-hal kecil, bahkan saat tidak melakukan apa-apa.
Ada bagian dari otakku yang tidak mau membiarkanku lupa bahwa aku sedang menderita. Bahkan di momen bahagia, aku memikirkan tentang kematian. Bahkan dalam diam, aku berteriak di dalam.
Aku sudah menderita selama yang bisa kuingat. Bukan cuma sedih, bukan cuma lelah, tetapi benar-benar menderita. Aku membawa sesuatu yang berat dan tak terlihat di dadaku, sesuatu yang orang lain sepertinya tidak bisa lihat. Aku tidak ingat persis kapan itu mulai; rasanya itu selalu ada. Rasa nyeri itu, beban yang konstan. Suara yang bilang, “gimana kalau kamu menghilang saja?”
Orang-orang pikir pikiran bunuh diri itu dramatis. Keras. Berbahaya. Kadang memang iya. Tetapi punyaku lebih seperti kabut, seolah aku hidup di bawah awan abu-abu yang tidak bisa dilihat orang lain. Itu sudah jadi bagian dari diriku. Aku bahkan tidak tahu rasanya hidup tanpa perasaan seperti ini.
Bagian terburuknya adalah betapa fungsionalnya aku. Betapa baiknya aku belajar terlihat normal. Kalau kalian melihat aku sedang menjalani kehidupan sehari-hari, kalian tidak akan pernah menyangka bahwa aku setiap hari, setiap waktu, terus-menerus berpikir bahwa aku tidak ingin ada di sini.
Di dalam, aku pelan-pelan hancur.
Aku cuma ingin berhenti merasa sakit. Aku ingin istirahat. Aku ingin damai. Aku ingin suara di kepalaku berhenti.
Aku selalu membayangkan kematian yang tenang, sesuatu yang tanpa rasa sakit, lembut. Seperti tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Bukan untuk mengejutkan siapa pun, bukan untuk menyakiti siapa pun. Cuma untuk berhenti merasakan semua ini.
Saat sendirian, aku memikirkannya lebih sering. Aku bertanya-tanya seberapa dalam pisau harus masuk. Aku bertanya-tanya seberapa sakit rasanya. Aku bertanya-tanya apakah itu akan cukup.
Tuhan, aku lelah. Aku sangat lelah. Lelah berpura-pura. Aku lelah membawa rasa sakit diam ini seperti kulit kedua. Lelah bangun setiap hari dan bertanya berapa lama lagi aku bisa bertahan.
Rasanya seperti aku di balik kaca, seperti di bawah air, di mana aku tidak bisa berteriak dan perlahan tenggelam. Aku tidak bisa bernapas. Bahkan di momen yang seharusnya paling hidup, aku justru berpikir untuk pergi.
Aku bangun dan membawa semua ini sepanjang hari, ke sarapan, ke urusan kecil, ke chat, ke waktu bersama teman. Aku membawanya ke mana-mana. Aku tidak ingin membuat keributan.
Aku cuma ingin istirahat. Aku cuma ingin merasa baik-baik saja saat hidup.
Bagaimana kalau aku benar-benar menusukkan pisau itu ke diriku sendiri?
I’m So Tired
Leave a comment