Like Antennas to Heaven

Selalu ada momen ketika sebuah album masuk ke dalam hidupmu sebagai sesuatu yang berbeda. Semacam konfirmasi bahwa perasaan yang selama ini kamu anggap terlalu ekstrem, terlalu sulit dijelaskan, terlalu jauh dari apa yang orang lain rasakan, ternyata pernah dirasakan juga oleh orang lain. Pernah direkam. Pernah dirilis. Pernah dibiarkan hidup dalam bentuk suara, menunggu ditemukan oleh seseorang pada waktu yang paling tidak terduga.

Lima album ini, pada titik tertentu dalam hidupku, mengubah cara aku berdiri di dalam dunia. Membuat kehancuran terasa punya bentuk. Dan terkadang, itu adalah perubahan paling berarti yang bisa dilakukan sebuah karya seni.

Joy Division – Closer


Album ini dirilis dua bulan setelah Ian Curtis meninggal, di malam sebelum Joy Division berangkat untuk tur Amerika pertama mereka. Karena itu, ketika mendengarkan Closer, rasanya sulit untuk memisahkan suara Curtis dari ketiadaannya.

Closer tidak memberimu jarak aman dari apa yang sedang terjadi di dalamnya. Produksi Martin Hannett terasa dingin, luas, dan nyaris tidak manusiawi. Drum terdengar seperti dipukul di ruang kosong yang terlalu besar. Bass berjalan seperti denyut nadi yang melambat. Gitar tidak selalu hadir sebagai melodi, tapi sebagai tekstur, seperti cahaya tipis yang masuk dari celah jendela di sebuah bangunan yang sudah ditinggalkan.

Curtis tidak terdengar seperti sedang bernyanyi tentang depresi sebagai konsep. Ia seperti sedang melaporkan kondisi dari dalamnya. Dengan akurasi seseorang yang sedang mencatat bencana yang terjadi pada dirinya sendiri.

Yang membuat Closer berbeda dari banyak album gelap lain adalah ketiadaan sentimentalitas. Curtis tidak meminta simpati. Ia tidak memperindah keputusasaan. Ia tidak membuat penderitaan terdengar romantis. “Isolation” bergerak dengan beat yang hampir bisa ditarikan, tapi liriknya bicara tentang keterputusan total dari hubungan manusia. “The Eternal” terasa seperti upacara kecil untuk sesuatu yang sudah tidak bisa kembali.

Aku menemukan album ini di usia ketika aku sedang mencari bahasa untuk sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kataku sendiri. Closer memberiku itu.

Swans – Filth


Album pertama Swans ini lahir dari New York awal 80-an, dari kota yang masih kasar, berbahaya, dan belum sepenuhnya dibersihkan menjadi citra urban yang bisa dijual kembali. Konteks kota itu hanya pintu masuk, yang lebih penting adalah bagaimana Filth terdengar seperti sistem yang bekerja tanpa belas kasihan.

Gira berbicara tentang manusia seperti sedang membongkar mesin yang rusak. Ia tidak mencari sisi indah dari penderitaan. Ia tidak menawarkan nostalgia. Tidak ada sisa harapan yang sedang diraung-raungkan kepergiannya. Yang ada hanya pengulangan. Tubuh digunakan. Bahasa menjadi alat kontrol. Relasi menjadi medan kekuasaan. Semua dijabarkan dengan ritme yang terus menekan.

Filth adalah nihilisme dalam bentuk pengalaman fisik. Sesuatu yang kamu rasakan di dada, di rahang, di bagian tubuh yang menegang tanpa kamu sadari.

Karena itu Filth bukan album yang mudah aku rekomendasikan kepada orang lain. Ia bukan sesuatu yang bisa dipakai sebagai latar kerja, bukan musik untuk membangun suasana, bukan album yang meminta dicintai. Ia lebih mirip ruangan gelap yang harus kamu masuki sendiri.

Nurse With Wound – Soliloquy for Lilith


Steven Stapleton merekam Soliloquy for Lilith melalui proses yang sering diceritakan sebagai sesuatu yang hampir tidak disengaja. Ia bereksperimen dengan tape loops, amplifier, dan feedback, lalu menemukan sebuah sistem suara yang seolah berjalan sendiri. Drone itu berevolusi tanpa banyak intervensi, seperti organisme yang menemukan bentuknya sendiri. Stapleton kemudian membiarkannya berlangsung dan merekam hasilnya selama beberapa malam.

Soliloquy for Lilith terdengar organik dengan cara yang hampir biologis. Seperti suara yang bernapas. Seperti sesuatu yang memiliki berat, tekstur, dan suhu. Drone-nya berulang, tapi tidak pernah benar-benar identik. Ia bergerak sangat pelan, hampir tidak terlihat, seperti perubahan cahaya di dalam kamar saat sore mulai habis.

Album ini terasa seperti mendengarkan proses alamiah yang biasanya berlangsung di bawah ambang persepsi normal. Sesuatu yang selalu ada, tapi terlalu pelan untuk kita dengar. Sampai Stapleton, entah dengan niat atau kecelakaan, membukakan sedikit celah.

Dalam banyak tradisi mitologis, Lilith sering dikaitkan dengan malam, otonomi, ketidakpatuhan, dan hal-hal yang bergerak di luar pengawasan tatanan resmi. Koneksi antara nama dan suara di album ini terasa sangat tepat, ia membiarkan ruang bagi mitos tersebut untuk merembes masuk.

Album ini mengubahku karena ia memperlihatkan bahwa ketidaksengajaan kadang bisa menghasilkan sesuatu yang lebih tepat daripada perencanaan. Bahwa sistem yang dibiarkan berjalan sendiri terkadang menemukan tempat yang tidak akan pernah dicapai oleh kontrol sadar.

Current 93 – Thunder Perfect Mind


David Tibet adalah seniman yang sulit dijelaskan kepada orang yang belum pernah mendengarnya. Karena apa yang ia lakukan beroperasi di wilayah yang tidak pernah benar-benar tunduk pada satu kategori. Neofolk? Ya, sebagian. Avant-garde? Tentu. Spiritual? Jelas, tapi bukan dengan cara yang membuatmu nyaman dengan arti kata spiritual itu sendiri.

Thunder Perfect Mind terasa seperti album yang lahir dari seseorang yang sudah terlalu lama menatap simbol, kitab, mimpi buruk, mistisisme, dan tanda-tanda akhir zaman. Tibet tidak menyusun lagu seperti menyusun fragmen penglihatan. Gitar akustik, biola, drone, dan suara-suara kecil yang terasa seperti datang dari ruangan lain berkumpul menjadi sesuatu yang rapuh.

Vokal Tibet sendiri tidak dinyanyikan dalam pengertian konvensional. Ia dipresentasikan. Diucapkan. Kadang diratapi. Kadang terdengar seperti seseorang yang sedang membacakan doa untuk dunia yang sudah ia tahu tidak akan diselamatkan.

Kata-kata di album ini terasa penuh dengan bayangan. Ada kesedihan, iman, dan rasa akhir. Seperti seseorang yang telah lama menerima undangan menuju kehancuran dan kini sedang menyiapkan diri dengan tenang. Tibet berbicara tentang akhir segalanya dengan kelembutan yang justru membuatnya lebih mengganggu.

Album ini mengajariku bahwa kerinduan, kesedihan, dan keyakinan bahwa segalanya pada akhirnya akan berakhir bisa menjadi fondasi estetika yang utuh.

GY!BE – Lift Your Skinny Fists Like Antennas to Heaven


Ada album yang kamu dengarkan sekali, lalu hidupmu terasa terbagi menjadi sebelum dan sesudah. Karena ia mengubah skala perasaanmu. Tiba-tiba kesedihan tidak lagi terasa seperti sesuatu yang kecil dan privat. Ia menjadi lanskap. Menjadi kota. Menjadi langit yang terlalu luas untuk ditanggung sendirian. Lift Your Skinny Fists Like Antennas to Heaven adalah album seperti itu.

Godspeed You! Black Emperor adalah kolektif dari Montreal dengan formasi yang berubah-ubah. Mereka tidak pernah terasa seperti band dalam pengertian rock yang biasa. Tidak ada figur yang mudah dijadikan ikon. Tidak ada narasi selebritas yang bisa dikonsumsi. Mereka lebih seperti sekumpulan orang yang percaya bahwa suara bisa menjadi cara untuk melihat dunia yang rusak tanpa harus menjelaskannya dengan bahasa yang sudah terlalu sering gagal.

GY!BE tidak menceritakan kisah secara langsung. Mereka membangun kondisi di mana pikiranmu sendiri mulai menceritakannya. Dan sering kali, kisah yang kamu ceritakan kepada dirimu sendiri saat mendengarkan mereka lebih akurat, lebih menakutkan, dan lebih personal daripada apa pun yang bisa ditulis orang lain untukmu.

“Storm” adalah bagian pertama yang benar-benar menghancurkanku. Ia dimulai seperti sesuatu yang hampir biasa. Pelan-pelan, ia menjadi sesuatu yang terlalu besar untuk ditahan oleh bentuk awalnya. Seperti bangunan yang mendadak sadar bahwa dirinya adalah reruntuhan. Seperti doa kolektif dari orang-orang yang tidak lagi percaya pada Tuhan.

GY!BE adalah band yang politis. Mereka politis karena musik mereka terasa seperti konsekuensi dari melihat dunia apa adanya. Pesawat tempur di sampul, judul-judul yang mengarah pada kehancuran, keheningan, antena, sinyal, dan sesuatu yang mungkin tidak pernah sampai kepada siapa pun, semuanya bukan dekorasi. Itu bagian dari argumen.

Dan bagiku, argumen album ini adalah, dunia karena kerusakan itu dipelihara, diwariskan, dan dijadikan sistem. Rasa sakit yang kamu rasakan saat menyadari itu bukan kelemahan. Ia adalah respons yang tepat terhadap kondisi yang nyata.

Tapi album ini tidak berhenti di sana. Di tengah semua keruntuhan itu, Lift Your Skinny Fists Like Antennas to Heaven tetap percaya bahwa keindahan masih mungkin. Itu yang membuat album ini begitu berarti bagiku. Ia tidak memintaku menjadi optimis. Ia hanya menunjukkan bahwa di tengah kehancuran, masih ada tindakan yang layak dilakukan.

Discover more from Soft Collapse

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading