A Dancing Star

By

Kemarin, aku ada di titik seperti ilustrasi ini. Cara aku menulis, cara aku berpikir, semuanya seperti tangan di dalam cermin itu. Aku yang terlihat di luar mungkin baik-baik saja, tapi versi di dalam terus mengarahkan “senjata” dalam bentuk kritik, keraguan, dan penolakan.

Aku menganggap itu sebagai kejujuran.

Exploring solitude and alienation.
Acrylic on canvas (50 × 50 cm), redrawn digitally 🄯 2026
Inspired by the visual language of Totalitär

Ilustrasi ini aku buat karena terinspirasi dari cover album Sin Egen Motståndare milik Totalitär. Rasanya begitu dekat, sehingga aku mereplikanya, sebagai bentuk eksplorasi tentang solitude dan alienation. Ada sesuatu dalam estetika itu yang terasa mentah, jujur, dan tidak berusaha memperhalus luka.

Kedekatan soal perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seperti ada resonansi yang langsung terjadi, antara apa yang aku lihat, dan apa yang selama ini aku rasakan tapi tidak pernah benar-benar aku beri bentuk.

Saat aku mereplikasi ilustrasi tersebut, sebenarnya aku sedang mencoba memahami diriku sendiri. Untuk menyentuh ulang emosi yang ada di baliknya. Ada rasa terasing yang begitu konstan, pelan dan menetap, yang justru terasa paling nyata saat semuanya terlihat “baik-baik saja.”

Proses ini juga terasa seperti menghadapi ulang bayangan diri. Seolah-olah aku sengaja berdiri di depan cermin, dengan kesadaran penuh. Aku tahu apa yang kulihat tidak sepenuhnya asing, tapi juga bukan sesuatu yang ingin terus kupelihara. Dalam garis-garis itu, aku melihat versi lama diriku, yang terlalu lama hidup dalam ruang sempit antara kritik dan ketakutan.

Mungkin, justru karena itu ilustrasi ini terasa penting. Semacam arsip emosional. Sebuah cara untuk mengatakan bahwa aku pernah ada di sana, di ruang yang terasa terasing, di kepala yang terlalu bising, di titik di mana diri sendiri bisa terasa seperti lawan.

Aku mulai mengingat kembali Thus Spoke Zarathustra, ada gagasan bahwa manusia bukan sesuatu yang selesai; ia adalah jembatan, sesuatu yang harus dilampaui. “Dancing star” tidak lahir dari kekacauan yang dipuja, tapi dari kekacauan yang diolah, bahkan dikalahkan.

Ada bagian dari diriku yang memang harus “dibunuh.” Cara lama aku memandang diriku sendiri. Cara lama yang terus-menerus menarikku kembali ke cermin itu. Cara lama yang merasa aman dalam luka, yang mengira bahwa merendahkan diri adalah bentuk kedalaman.

Membunuh versi lama itu seperti saat aku berhenti mengulang narasi yang sama. Saat aku memilih untuk tidak mempercayai setiap pikiran yang menyerangku.

Di sisi lain, Gregor Samsa berubah tanpa pernah benar-benar memilih. Ia terjebak dalam bentuk yang asing, dan dunia menutup dirinya sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi.

Aku tidak ingin seperti itu.

Jika aku berubah, aku ingin itu menjadi tindakan sadar. Aku ingin menjadi orang yang memilih untuk meninggalkan bentuk lama, bukan yang terperangkap di dalamnya.

Ilustrasi ini adalah titik peralihannya.

Karena sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas: itu bukan aku yang sebenarnya. Itu hanya versi lama yang terlalu lama kubiarkan hidup. Versi yang percaya bahwa ia harus merendahkan diri sendiri untuk merasa nyata.

Sekarang aku ingin sesuatu yang lain.

Aku ingin tetap berdiri, tetap hidup, tetap menjadi bunga yang sama, yang pernah menerima cahaya, tapi tidak bergantung padanya untuk tumbuh. Aku tidak ingin lagi menjadi tangan yang diam-diam mencabut akarku sendiri. Tidak ada lagi self-sabotage yang kubungkus sebagai kehati-hatian. Tidak ada lagi alasan untuk menghancurkan sesuatu sebelum sempat benar-benar hidup.

Jika dulu aku berdiri di depan cermin dan melihat ancaman, sekarang aku ingin melihat kemungkinan.

Dan mungkin, tulisan ini tentang menandai sebuah awal.

Posted In ,

Leave a comment