The Art of Not Abandoning Myself

By

Aku pernah berada di satu momen ketika beberapa orang mengecewakanku. Aku mulai merasa frustrasi, tidak didengar, atau diabaikan secara emosional, dan awalnya terasa seperti kemarahan itu tentang mereka. Tapi, bukan itu.

Aku mengharapkan pesan, kepastian, usaha, konsistensi. Sementara itu, aku sendiri tidak memberi diriku istirahat, belas kasih, atau kesabaran.

Di sinilah ekspektasi yang tidak terucap muncul. Aku mengharapkan orang lain tahu apa yang aku butuhkan tanpa aku mengatakannya. Aku berharap mereka akan memperbaiki, menyelamatkan, atau memvalidasiku. Lalu aku terluka ketika mereka tidak melakukannya, padahal aku tidak pernah meminta.

Ekspektasi sering datang dari tempat di mana aku memberi dengan tulus, tanpa menganggap orang lain akan melakukan hal yang sama… dan itu tidak apa-apa, meskipun tidak selalu terjadi.

“The largest source of suffering is the gap between our expectations and reality.” – Alain de Botton

Ini tentang tanggung jawab emosional.

Kekecewaan sering lahir dari diam, bukan dari kejamnya orang lain. Dari aku yang mengharapkan menerima sesuatu tanpa mengungkapkannya.

Ekspektasi seperti itu tidak realistis, karena seberapa pun dekatnya aku dengan seseorang, mereka akan selalu lebih mengenal diri mereka sendiri daripada mengenal aku. Kadang, bahkan setelah seumur hidup.

Kebenarannya, satu-satunya orang yang benar-benar tahu apa yang aku butuhkan adalah diriku sendiri.

Aku tidak meminta terlalu banyak cinta atau terlalu banyak perhatian. Aku hanya meminta rasa aman, kepastian, untuk dipilih, untuk merasa penting.

Dan itu membawa ke pertanyaan yang lebih sulit: kenapa lebih mudah bagiku meminta hal-hal itu dari orang lain daripada memberikannya kepada diriku sendiri?

“Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.” – Carl Jung

Sering kali, apa yang aku minta dari orang lain adalah persis apa yang belum aku pelajari untuk aku berikan pada diriku sendiri.

Setelah banyak refleksi dan belajar memahami. Mencintai diri sendiri itu bukan berarti kita tidak bisa menerima cinta dari orang lain. Itu berarti kita tidak menggantungkan nilai diri padanya. Kita membiarkan cinta ada tanpa ekspektasi. Kita tidak lagi membiarkan cinta yang kita terima dari orang lain lebih berarti daripada cinta yang diberikan pada diri sendiri.

Dan pelan-pelan, aku mulai belajar hal yang lebih konkret. Bukan cuma dipahami, tapi dijalani.

Ini jadwal harianku, dan ini adalah bentuk konsistensi atas memilih diriku sendiri.

Hal-hal yang dulu sering aku abaikan, sekarang justru jadi cara aku tetap tinggal di dalam hidupku sendiri.

Ketika aku benar-benar mencintai diriku, bahkan jika seseorang berhenti memberi cinta atau menariknya kembali, aku tidak akan merasakannya hilang dengan cara yang sama. Karena aku sudah tahu bagaimana memeluk diriku sendiri.

Cara aku mengabaikan diriku memengaruhi segalanya, termasuk hubunganku. Aku mengabaikan kelelahanku sendiri. Bertahan saat seharusnya aku beristirahat. Menerima yang lebih sedikit karena aku tidak percaya aku pantas mendapatkan lebih. Menunggu izin alih-alih memilih diriku sendiri.

“We cannot selectively numb emotions. When we numb the painful emotions, we also numb the positive ones. – Brené Brown

Belajar mengarahkan ekspektasi ke dalam diriku sendiri mengubah segalanya.

Aku memberi diriku kepastian yang selama ini aku harapkan dari orang lain. Aku menjadi konsisten dengan diriku sendiri. Aku tetap hadir bahkan saat tidak ada yang melihat. Aku memilih diriku tanpa membutuhkan tepuk tangan.

Memberi pada diriku sendiri sebelum memberi pada orang lain bukanlah egois. Selalu menunggu orang lain memberi apa yang aku butuhkan adalah cara aku perlahan meninggalkan diriku sendiri.

Aku tetap bisa menginginkan cinta dari orang lain sambil belajar memberikannya pada diriku sendiri.

Penyembuhan bukan tentang membutuhkan lebih sedikit, tapi tentang lebih sedikit meninggalkan diriku sendiri. Kadang, orang yang aku tunggu-tunggu selama ini… adalah diriku sendiri.

Aku tidak meminta terlalu banyak. Aku hanya meminta pada orang yang salah untuk hal-hal yang belum aku pelajari memberikannya pada diriku sendiri.

Posted In ,

Leave a comment