Kali ini aku menulis lagi setelah konsultasi dengan profesional, mencoba memahami sesuatu yang lama menunggu untuk aku pahami: tentang diriku, tentang kita, dan tentang bagaimana cinta kita kadang hangat, kadang dingin karena jarak dan kesalahpahaman.
Dua tahun yang kita jalani terasa seperti buku dengan halaman yang berbeda-beda warnanya. Tahun pertama penuh warna cerah, tawa, obrolan panjang, dan kedekatan yang membuat hati terasa ringan. Tapi di akhir tahun pertama, kamu bilang kamu bingung dan kadang merasa ingin push away. Aku tidak sepenuhnya mengerti saat itu, aku terlalu sibuk dengan rasa takut sendiri dan ketidaktahuan tentang bagaimana menanggapinya.
Tahun kedua kita menjalani hubungan dengan jarak, dan aku menyadari sekarang bahwa banyak kata yang seharusnya aku ucapkan tetap terkubur di bibir. Komunikasi yang minim dariku mungkin terasa sepi bagimu, dan aku menyesal karena membiarkan jarak itu menjadi tembok yang memisahkan hati kita. Aku ingin minta maaf karena tidak cukup hadir ketika kamu mencoba bertahan. Aku ingin minta maaf karena aku terlalu diam, terlalu membiarkan ketidakjelasan menggantung di antara kita, tanpa tahu betapa sakitnya itu bagimu.
Aku ingin mengakui sesuatu yang mungkin baru aku pahami sepenuhnya sekarang, ketika seseorang merasakan dorongan untuk push-away, tapi tetap mencoba bertahan, itu adalah rasa sakit yang sangat nyata. Itu bukan hanya kebingungan atau ketidaktahuan, tapi perasaan berat yang muncul setiap kali hati ingin menutup diri tapi tetap mencoba menjaga sesuatu yang berharga. Aku mengerti sekarang bahwa mencoba bertahan ketika hatimu sedang ingin menjauh adalah perjuangan yang menyakitkan, dan aku menyesal karena aku tidak cukup hadir untuk meringankan beban itu.
Kadang aku membayangkan kita seperti dua pohon di sisi sungai. Air yang mengalir di antara kita bisa menyejukkan, tapi juga bisa membuat jarak terasa lebih dalam. Aku sering berdiri di tepi, menatapmu, tapi terlalu takut untuk menyeberang. Aku takut terseret arus perasaan sendiri, takut salah melangkah, takut terlalu rentan. Tapi aku menyadari sekarang, bahwa dengan tidak menyeberang, aku justru membuatmu merasa sendirian dalam arus itu. Untuk itu aku benar-benar minta maaf.
Aku minta maaf karena kata-kata yang jarang aku ucapkan membuatmu merasa terabaikan. Aku minta maaf karena sikapku yang pasif, diam di saat yang seharusnya aku hadir, menambah berat beban yang kamu pikul sendiri. Aku minta maaf karena aku tidak cukup membagikan perasaanku, takut jika terlalu jujur akan membuatmu menjauh. Padahal, kini aku sadar bahwa kejujuran itu adalah jembatan, bukan jurang.
Aku menulis ini sebagai pengakuan tulus, aku belajar bahwa cinta bukan hanya soal hadir secara fisik, tetapi hadir sepenuhnya, mendengar, merasakan, dan membiarkan perasaan itu mengalir. Aku belajar bahwa komunikasi bukan sekadar kata-kata yang terucap, tapi keberanian untuk menjadi rentan, untuk menunjukkan ketakutan dan harapan yang sebenarnya. Aku belajar bahwa hubungan yang sehat membutuhkan ruang aman untuk saling terbuka, bahkan saat jarak memisahkan.
Aku juga ingin meminta maaf karena mungkin selama ini aku terlalu sibuk menjaga diriku sendiri sehingga tidak melihat luka yang mungkin muncul di hatimu. Aku minta maaf karena tidak cukup hadir untuk menenangkan ketidakpastianmu. Aku minta maaf karena membiarkan diamku berbicara lebih keras daripada cinta yang sebenarnya aku rasakan.
Menulis ini membuatku menyadari bahwa pengalaman kita sebagai pelajaran berharga. Aku belajar tentang keberanian untuk mencintai, tentang pentingnya kehadiran emosional, dan tentang bagaimana jarak bukan hanya soal kilometer, tapi soal hati yang perlu dipahami. Aku belajar bahwa mencintai berarti hadir, bahkan saat itu sulit, berbagi rasa takut, bahkan saat itu menakutkan, dan meminta maaf, bahkan saat itu terasa berat.
Terima kasih sudah hadir, mencintai dengan caramu, dan mengajarkanku tentang kesabaran, kejujuran, dan keberanian dalam cinta. Aku menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri: bahwa setiap kata, setiap keheningan, setiap langkah yang kita ambil bersama atau terpisah, membentuk cara aku belajar mencintai dengan lebih dewasa dan tulus.
Aku berharap suatu saat kamu bisa membaca ini dan merasakan bahwa aku benar-benar memahami rasa sakitmu.
Leave a comment