I Hope One Day You’ll Be Proud of Me

By

Ada masa di mana apa pun yang kulakukan selalu dianggap salah oleh keluargaku.
Kalau aku bicara, mereka bilang aku menentang.
Kalau aku diam, mereka bilang aku tidak peduli.
Kalau aku mencoba menjelaskan perasaanku, mereka bilang aku memberontak.

Lama-lama aku bingung sendiri.
Sebenarnya aku harus bagaimana supaya tidak selalu salah di mata mereka.

Mungkin di mata mereka aku memang anak yang keras kepala. Tidak patuh. Bahkan mungkin durhaka. Tapi sejujurnya aku tidak pernah merasa aku sedang melawan mereka. Aku hanya ingin didengar. Itu saja. Didengar sebagai manusia, bukan hanya sebagai anak yang harus selalu bilang iya.

Label “durhaka” itu berat. Lebih berat dari yang mereka bayangkan. Karena kata itu tidak hilang setelah diucapkan. Kata itu tinggal di kepala. Dan lama-lama aku mulai bertanya ke diriku sendiri.

Apa aku memang anak yang buruk?
Apa aku selalu mengecewakan mereka?
Apa aku memang selalu salah di mata mereka?

Rasa bersalah itu datangnya dari hal kecil. Dari komentar. Dari perbandingan. Dari nada bicara. Dari tatapan. Lama-lama aku jadi orang yang gampang minta maaf, bahkan ketika aku sendiri tidak yakin aku salah.

Aku jadi lebih sering diam, karena aku sudah lelah kalau setiap aku bicara ujungnya selalu dianggap salah.

Aku anak bungsu. Banyak orang bilang anak bungsu itu enak. Dimanja. Disayang. Dibantu. Dan memang mereka memanjakanku. Banyak hal dipermudah. Banyak hal dibantu. Tapi ada satu hal yang jarang mereka sadari, aku jarang benar-benar diberi kesempatan memilih hidupku sendiri.

Banyak keputusan sudah mereka buat sebelum aku sempat memilih.
Banyak jalan sudah mereka tentukan sebelum aku sempat berjalan.
Banyak pilihan sudah mereka arahkan sebelum aku sempat mencoba dan mungkin salah.

Waktu kecil semua itu terasa seperti kasih sayang. Dan memang benar itu adalah kasih sayang. Tapi waktu aku mulai dewasa dan ingin menentukan hidupku sendiri, di mata mereka aku berubah. Aku jadi tidak patuh. Aku jadi melawan. Padahal sebenarnya aku cuma baru mulai berdiri di kakiku sendiri.

Aku baru sadar, dimanja itu tidak selalu berarti bebas. Kadang justru membuat seseorang tidak pernah benar-benar dipercaya.

Tekanan seperti ini pelan-pelan mengubah orang tanpa mereka sadar. Seseorang bisa tumbuh menjadi orang yang selalu merasa harus menyenangkan semua orang. Takut mengecewakan. Sulit berkata tidak. Selalu merasa bersalah bahkan ketika dia tidak melakukan kesalahan. Atau sebaliknya, dia tumbuh menjadi orang yang jauh dari keluarganya sendiri, bukan karena tidak sayang, tapi karena terlalu banyak hal yang tidak pernah selesai dibicarakan.

Jujur, aku takut menjadi seperti itu.
Tapi, kadang aku merasa aku sudah seperti itu.

Kadang aku merasa aku hidup di antara dua pilihan yang sama-sama berat.
Menjadi diriku sendiri dan dianggap durhaka oleh mereka,
atau menjadi anak baik di mata mereka tapi pelan-pelan kehilangan diriku sendiri.

Aku tidak pernah ingin menjadi anak yang durhaka bagi mereka.
Aku tidak pernah ingin melawan mereka.
Aku hanya ingin mereka percaya bahwa aku juga bisa menentukan hidupku sendiri.

Mungkin sekarang mereka belum mengerti.
Mungkin sekarang di mata mereka aku masih salah.
Mungkin mereka masih menganggapku keras kepala.

Tidak apa-apa.

Aku tidak harus dimengerti sekarang.
Aku tidak harus dibenarkan sekarang.

Aku hanya ingin terus berjalan di jalan yang aku pilih. Pelan-pelan saja. Sampai suatu hari nanti mereka bisa melihat sendiri, tanpa aku harus menjelaskan panjang lebar lagi.

Aku ingin membuktikan pada mereka.
Pada ibuku.
Pada kakak-kakakku.

Bahwa pilihan yang aku ambil ini tidak salah.

Tidak harus hari ini.
Tidak harus besok.

-One Day-

Posted In ,

Leave a comment