Aku memutuskan untuk deactivate semua akun media sosial.
Dan untuk saat ini, menurutku, itu adalah keputusan yang tepat.
Keputusan ini tidak lahir dari keinginan untuk tampak produktif atau sekadar mengikuti tren digital detox, melainkan karena aku mulai merasa bahwa pikiranku sudah tidak lagi menjadi milikku sendiri. Suara‑suara noise dari luar yang masuk begitu banyak tanpa aku sadari, serta banyak orang yang tidak aku kenal, entah bagaimana berhasil memengaruhi caraku memandang hidup, hubungan, bahkan diri sendiri.
Bagaimana mungkin orang random di internet tahu perasaan orang lain?
Suatu hari aku membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa algoritma adalah cerminan diri kita. Di awal, aku langsung setuju. Aku bahkan hampir menyukai postingan itu, lalu tiba-tiba aku berhenti dan berpikir: tunggu, bukan ini masalahnya. Aku tidak membenci algoritma karena itu mencerminkan diriku. Aku membencinya karena itu adalah mesin yang diciptakan untuk memanipulasiku agar tetap terlibat selama mungkin, mencuri perhatian dan waktuku.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:
Berapa kali aku setuju, tanpa berpikir, terhadap sesuatu yang internet katakan tentang diriku?
Di internet, aku mengonsumsi begitu banyak konten dalam waktu sangat singkat sampai aku tidak sempat berpikir tentang apa yang kubaca. Tetapi kata-kata itu tetap tertanam di bawah sadar dan perlahan bisa membentuk cara aku melihat diriku sendiri.
Aku pikir aku yang membentuk algoritma.
Ternyata, algoritma yang membentukku.
Daniel Kahneman seorang psikolog dan ekonom menjelaskan bahwa manusia sering mengambil keputusan secara otomatis tanpa berpikir panjang. Kita menyerap informasi dari lingkungan tanpa sadar. Jika lingkunganku adalah algoritma yang setiap hari menampilkan hubungan toxic, ghosting, manipulasi, strategi menghadapi pasangan, maka lama-lama aku akan menganggap itu normal.
Media sosial mengajarkan strategi mendapatkan orang.
Tetapi tidak pernah mengajarkan cara mencintai orang.
Padahal dalam The Art of Loving, Erich Fromm menulis bahwa cinta bukanlah teknik untuk membuat seseorang mencintaiku, tetapi kemampuan untuk mencintai dengan dewasa.
Internet membuat cinta terasa seperti permainan strategi.
Padahal cinta mungkin adalah satu-satunya hal di dunia yang tidak bisa dimenangkan dengan strategi.
Akhir-akhir ini, aku juga sedang berada di ruang reflektif yang dalam. Memikirkan semua hubunganku, terutama yang romantis. Aku merindukan rutinitas memiliki seseorang untuk berbagi cerita, kencan yang menyenangkan, kenyamanan sehari-hari.
Internet selalu bilang:
“Tinggalkan dia saja.”
“Cari orang baru.”
“Move on.”
Tidak ada ruang untuk refleksi. Tidak ada ruang untuk berduka. Tidak ada ruang untuk mengakui bahwa aku mencintai seseorang dan kehilangan itu menyakitkan.
Bagaimana bisa aku bilang benar-benar mencintai seseorang jika mereka begitu mudah tergantikan? Jika semua orang bisa diganti, apakah hubungan itu pernah benar-benar berarti? Ini bukan seperti cincin murah dua puluh ribuan dari Shopee atau Tokopedia. Ini Harry Winston, Tiffany, Cartier… itu berharga bagiku.
Kenyataannya, aku merindukan seseorang yang kucintai, dan itu sakit. Situasinya rumit, dan itulah yang paling menyakitkan. Satu menit aku merasa lega keluar dari kekacauan, menit berikutnya aku terseret oleh kenangan dan semua yang aku harap bisa kita capai suatu hari.
Dan kesedihan seperti itu tidak bisa disembuhkan oleh video reels yang menyuruhku move on.
Dan lucunya, algoritma reels Instagramku entah bagaimana obsesif dengan ide bahwa aku punya attachment style avoidant. Video tentang psikologi hubungan, strategi menghadapi pasangan avoidant, cara membuat avoidant mengejar kita, dan sebagainya terus muncul.
Dan tanpa sadar, aku mulai bertanya:
Apakah aku avoidant?
Padahal ketika aku memikirkan hubungan-hubunganku di masa lalu, itu tidak sepenuhnya benar. Ketika aku menyukai seseorang bahkan cenderung lebih ke arah anxious daripada avoidant. Atau mungkin aku bukan keduanya. Atau mungkin manusia memang tidak bisa disederhanakan menjadi label psikologi internet.
Kenapa internet harus mempathologikan setiap sifat manusia?
Kadang kita menjauh bukan karena avoidant, tapi karena kita pernah disakiti.
Kadang kita hati-hati bukan karena trauma, tapi karena kita belajar.
Kadang kita berubah bukan karena disorder, tapi karena kita dewasa.
Tapi algoritma tidak peduli konteks.
Algoritma hanya peduli engagement.
Aku mulai mengganti kebiasaan scroll dengan membaca. Sekarang aku sedang ingin membaca Mein Kampf karya Adolf Hitler. Dulu aku tidak mau membaca bukunya karena aku sudah tahu bahwa dia adalah orang jahat, bertanggung jawab atas salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah, yaitu Holocaust. Tetapi sekarang aku ingin tahu bagaimana cara dia berpikir, bagaimana ideologi bisa membuat jutaan orang percaya pada sesuatu yang mengerikan.
Hannah Arendt pernah menulis tentang banality of evil, bahwa kejahatan besar sering kali bukan dilakukan oleh monster, tetapi oleh manusia biasa yang berhenti berpikir dan hanya mengikuti ideologi.
Dan mungkin itu juga terjadi di internet dalam skala kecil.
Orang berhenti berpikir, lalu hanya mengikuti opini, tren, dan algoritma.
Pada akhirnya, membatasi media sosial bukan tentang menjadi produktif.
Bukan tentang ingin menjadi lebih pintar.
Bukan tentang ingin menjadi lebih baik dari orang lain.
Tetapi tentang menjaga agar pikiranku tetap milikku sendiri.
Karena di zaman ini, manusia tidak lagi hanya dibentuk oleh keluarga, kota, buku, dan pengalaman hidup. Kita dibentuk oleh algoritma. Oleh video 30 detik. Oleh opini orang yang tidak kita kenal.
Kita menjadi salinan dari salinan dari salinan.
Kita mendengarkan musik yang sama.
Menonton film yang sama.
Berpakaian dengan gaya yang sama.
Memiliki opini yang sama.
Bahkan memiliki cara mencintai yang sama, karena internet memberi tahu kita bagaimana seharusnya mencintai.
Leave a comment