2025 menjadi tahun yang sulit, bahkan mungkin sangat berat buatku. Karena jalur perjalanan yang aku pilih mendadak harus terhenti di pertengahan.
Semesta memaksa memintaku pulang.
Sebagian orang mengatakan bahwa tinggal di rumah terasa nyaman, berada dekat dengan orang tua, makanan terjamin, dan suasana lebih tenang. Pernyataan itu memang tepat, namun tidak sepenuhnya benar. Rumah dapat menjadi arena paling menantang bagi mental, terutama di usia yang sudah dewasa.
Selama tinggal di luar, aku tidak tahu, atau mungkin tidak ingin tahu, bagaimana sebenarnya dinamika di dalam keluarga. Namun setelah akhirnya tinggal lebih lama, baru kusadari: rumah tak pernah benar‑benar senyaman itu. Selalu ada ketegangan kecil, ekspektasi, masalah yang belum selesai, hal‑hal yang tidak dapat diatasi hanya dengan membiarkannya begitu saja.
Dari luar, mungkin terlihat sepertinya aku sedang menjalani hidup yang slow living atau terlalu slow. Seolah tidak ada yang dikejar.
Bukankah kita memang seperti itu?
Hanya menceritakan momen-momen ringan, lucu, santai.
Kita tidak menampakkan sisi lainnya, malam-malam panjang ketika duduk sendiri, mencoba membuka sebanyak mungkin pintu. Memikirkan masa depan, pikiran yang terus mencari solusi bagaimana caranya aku bisa keluar lagi dari tempat itu.
Kita akan menceritakan sisi lain itu setelah semuanya selesai.
Sekarang, aku telah meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalananku lagi. Namun kali ini tidak dengan metode, lokasi, atau identitas yang serupa. Aku perlu memulai kembali, belajar kembali, dan menjalani proses lagi dari titik nol.
Beberapa hari yang lalu, di kelas art history seorang profesor bertanya, “Siapa kamu?” Kami menjawab dengan menyebutkan nama, gelar, dan asal. Ia menggeleng dan berkata, “Itu bukan yang saya maksud. Itu hanya label. Lalu, siapa dirimu sebenarnya?” Ruangan menjadi hening, kata‑kata yang biasanya kami gunakan terasa tidak cukup. Nama dan latar belakang dapat menjelaskan hidup, tetapi tidak menggambarkan diri yang menjalani hidup itu.
Pertanyaan itu masih menghantuiku. Aku mulai menyadari bahwa identitasku terbentuk atas dasar respons apa yang berhasil, apa yang kuberikan, apa yang kulakukan, dan apa yang memberi rasa aman. Aku merupakan hasil gabungan pengaruh, pengalaman, serta hubungan. Aku ibarat mozaik yang tersusun dari semua orang yang pernah kucintai, tiap pelajaran yang kupelajari, dan rasa takut serta kebahagiaan yang kuterima.
Pertanyaan itu muncul di kota lain, di kamar lain, pada versi hidupku yang lain. Ia datang saat aku merasa sudah menjadi “seseorang”, dan terdengar lebih nyaring saat aku kehilangan arah.
Kini aku mulai mengerti, mungkin pertanyaan itu memang tidak dimaksudkan untuk dijawab sekali saja. Mungkin ia seharusnya menghantuiku. Mungkin ia ibarat kompas yang tidak menunjukkan arah, melainkan memaksaku terus mencari.
Ketika aku melihat kembali perjalanan beberapa tahun terakhir, menjauh dari rumah, mencoba menjadi sesuatu, lalu kembali, memulai lagi, aku melihat pola yang sebelumnya tidak kusadari.
Seakan semua ini bukan soal pergi.
Seakan aku memang harus menempuh perjalanan sejauh itu, hanya untuk mengerti cara kembali.
Kembali ke sesuatu yang selama ini selalu kupeluk, tapi jarang benar-benar kutemui: diriku sendiri.
Menikmati keberadaan diri sendiri bukanlah sesuatu yang indah sejak awal. Atau mengagumi kesendirian dengan cara yang romantis. Kadang hanya cukup duduk diam, makan dalam keheningan, menatap layar handphone tanpa notifikasi, lalu menyadari tidak ada yang datang.
Dan yang lebih menantang: tidak melarikan diri dari itu.
Awalnya terasa seperti kehilangan, seakan ada kekosongan yang harus segera terisi. Ada dorongan untuk selalu tampak, selalu dibutuhkan, selalu terhubung. Namun perlahan aku belajar duduk bersama diriku sendiri tanpa terburu‑buru mengubahnya menjadi sesuatu yang lain.
Aku mulai mendengar pikiran sendiri, bahkan yang tidak nyaman sekalipun. Aku mulai menyadari pola lama yang dulu selalu kututupi dengan kesibukan. Aku mengerti bahwa banyak bagian diriku terbentuk bukan karena pilihan, melainkan karena apa yang membuatku diterima, aman, dan tidak ditinggalkan.
Ada satu catatan yang kutuliskan tengah malam:
“Aku tidak benar‑benar kesepian. Aku hanya belum terbiasa ditemani oleh diriku sendiri.”
Perlahan, aku berhenti mengatur hidup untuk dipandang orang lain. Aku melakukan hal‑hal tanpa harus menjelaskan. Aku berjalan sendirian tanpa merasa harus membuktikan apa‑apa. Aku belajar bahwa kehadiranku sendiri bukan kekurangan. Itu sudah cukup.
Aku menjadi rumah bagi diriku sendiri.
Dari situ, pandanganku berubah. Aku tidak lagi melihat kesendirian sebagai hukuman, melainkan sebagai ruang. Ruang untuk kembali, menata ulang, mengenali apa yang selama ini teredam oleh kebisingan.
Kini, ketika aku siap melangkah lagi, menapaki hidup di tempat baru dengan versi diriku yang baru, aku tidak lagi melihat perjalanan ini sebagai upaya menjadi seseorang. Aku menganggapnya kelanjutan proses pulang, mungkin selama ini aku keliru. Aku pikir pergi untuk mencari hidup baru. Padahal, yang kudapatkan hanyalah mencari jalan pulang ke diriku sendiri.
Jika suatu hari pertanyaan itu kembali muncul, menanyakan, “Siapa dirimu?”
Mungkin aku masih belum punya jawaban yang pasti.
Tapi sekarang aku bisa menjawabnya, namaku Ari Gumelar. Aku adalah seseorang yang sedang pulang.
I’m Everything and I’m Nothing.
Leave a comment