A Place Called Home

By

2025 adalah tahun yang sangat sulit bagiku, aku harus berhenti di tengah jalan saat sedang sangat percaya pada mimpi.

Dua tahun yang lalu, tepatnya sejak 2023, aku meninggalkan rumah untuk menjalani sebuah misi: menaklukkan ibukota. Kedengarannya memang terdengar konyol, namun bagiku, itu adalah cara untuk membuktikan bahwa aku mampu hidup melalui pilihan sendiri, lewat berkarya, ide, gagasan, dan hal‑hal yang tidak semua orang anggap sebagai jalur karir yang “aman”.

Aku menyadari bahwa hidup di kota metropolutan ini sangat cepat. Tidak ada yang terlalu memperhatikan kamu siapa, semua orang sibuk mengejar sesuatu. Di tengah tekanan dan ketidakpastian, justru aku merasakan keberadaan hidup. Aku merasakan diriku bergerak menuju ke suatu hal, meskipun aku belum sepenuhnya mengetahui bentuk akhirnya.

Tahun 2025 seakan semesta memanggilku untuk pulang.

Setelah dua tahun pergi, aku kembali untuk tinggal, untuk berhenti sebentar, untuk mengambil peran yang tidak pernah benar-benar kurencanakan sebelumnya, untuk menjadi caregiver ibuku, satu-satunya orang tua yang masih kupunya.

Banyak orang berpendapat bahwa tinggal di rumah itu menyenangkan. Dekat dengan orang tua, makanan terjamin, dan pengeluaran lebih hemat. Pendapat seperti itu memang tidak keliru, namun tidak sepenuhnya benar. Karena yang tidak sering dibicarakan adalah bahwa kembali ke rumah saat sudah dewasa menjadi beban yang melelahkan.

Selama dua tahun menjauh dari rumah, aku tidak terlalu tahu dinamika yang terjadi di keluarga. Mungkin aku tidak mau tahu, mungkin juga keluargaku tidak mau memberitahu supaya aku bisa fokus dengan hidupku di luar sana. Aku pulang dua minggu sekali dan semuanya terlihat baik-baik saja. Namun, ketika aku kembali tinggal untuk waktu yang lama, barulah kusadari bahwa keluarga ibarat film panjang yang terus berlanjut, penuh dengan konflik kecil dan masalah yang tidak selesai hanya lewat satu percakapan.

Namun, satu hal yang membuatku tetap bertahan dan ikhlas adalah ibuku.

Setiap pagi aku mengeluarkan kursi roda dari rumah. Mengajak ibuku berjalan perlahan sambil mengamati jalan, memperhatikan orang-orang yang berangkat kerja, anak‑anak sekolah, serta ibu‑ibu yang berbelanja sayur. Entah mengapa, kebiasaan sederhana ini terasa sangat berarti. Setelah itu aku lanjut menyiapkan vitamin, obat, sarapan, dan memastikan ibuku tidak terlalu bosan di rumah.

Aku menyadari bahwa waktu tidak melulu diukur dari produktivitas, melainkan dari kehadiran.

Aku sangat senang dan ikhlas menjalani peran untuk merawat ibuku. Namun, tentu saja aku tidak selalu kuat. Ada malam-malam ketika aku merasakan hidup terhenti, sementara dunia orang lain terus berlanjut. Melihat teman-teman berkarya, pindah ke kota lain, pindah ke negara lain, memulai kehidupan baru, sementara aku setiap pagi berjalan di jalan yang sama.

Biasanya perasaan itu muncul saat rumah sudah sepi dan ibuku telah tertidur.

Tiga bulan setelah aku kembali ke rumah, aku mulai pelan-pelan membangun kemungkinan lagi. Mulai merapikan portfolio, kembali memulai jadi freelancer, kembali mempelajari banyak hal, memperdalam kemampuan editing video, belajar membuat musik digital sendiri, dan berusaha membuka peluang lain dengan mengirimkan karya audio serta visual untuk residensi atau proyek kreatif lainnya. Aku berusaha menciptakan sebanyak mungkin pilihan, karena menyadari bahwa satu-satunya cara untuk kembali bergerak adalah memiliki banyak pintu.

Selama ini mungkin orang-orang mengira aku sedang menjalani slow living. Tinggal di rumah, bermain game, terlihat santai. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Banyak malam yang kuhabiskan di depan komputer, bahkan terlelap dengan tangan memegang Apple Pencil dan iPad yang masih terbuka dengan aplikasi Procreate.

Bukankah memang begitu cara kita bertahan?
Kita hanya memperlihatkan sisi bahagia, dan menyimpan bagian sulit sendirian.

Sekarang, ketika masa sulit itu berakhir, aku mulai memahami sesuatu. Terkadang kita harus kembali ke rumah terlebih dahulu, berhenti sejenak, merawat diri, belajar bersabar, baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Hari ini, akhirnya aku kembali melanjutkan misi itu, namun dengan pendekatan yang berbeda. Tidak lagi dengan kota yang sama, rencana yang sama, atau versi diriku yang sama. Aku harus membelokkan arah sedikit, memulai dari awal di tempat baru, belajar kembali dari nol, dan memproses semuanya lagi dari awal.

Kali ini, aku harus fight sepenuhnya. Aku tidak mau kembali dalam kondisi setengah jalan, dan tidak ingin pulang saat mimpuku belum selesai.

Aku ingin pulang setelah semuanya selesai, bukan dalam keadaan menyerah.

Ada satu kalimat yang pernah kubaca:
“Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang tetap berjalan walaupun jalannya berputar.”

Mungkin tahun 2025 bukan saat aku menaklukkan ibukota.
Mungkin tahun 2025 justru menjadi tahun di mana aku belajar mengendalikan diri sendiri.
Mengatasi amarah ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Dan menyadari bahwa kadang pulang bukan berarti menyerah. Pulang justru merupakan bagian dari perjalanan, tempat menunggu hingga kita siap melangkah lagi.

Posted In ,

Leave a comment