Setelah sekian lama, aku kembali merasakan ditinggalkan.
Aku tidak menyangka perasaannya akan kembali setebal ini. Kupikir sudah cukup kuat dan sudah belajar dari masa lalu. Namun ternyata, saat kehilangan kembali datang, tubuh dan pikiranku masih merespons seperti pertama kali, bahkan mungkin lebih intens.
Beban yang kurasakan bukan sekadar kepergian seseorang, melainkan juga terhentinya semua rencana yang telah kupersiapkan untuknya.
Aku sudah menyiapkan banyak hal, sebuah rencana untuk menebus rasa bersalahku dan memberi semacam hadiah, sebagai bentuk terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini, sekaligus menghargai jarak panjang yang telah kami lewati tanpa bertemu.
Aku ingin memperpendek jarak itu lagi.
Aku berencana pindah ke lokasi yang lebih strategis supaya kita dapat bertemu lebih sering. Dalam beberapa bulan terakhir, aku juga rutin mengikuti pelatihan mengemudi. Semua itu tidak pernah kuceritakan, karena ingin menjadikannya kejutan.
Betapa mengejutkannya saat kami bertemu kembali, ketika jarak tak lagi menjadi halangan, dan aku dapat mengajaknya nightdrive, aktivitas yang ia sukai untuk menghilangkan lelah setelah bekerja. Hal itu dulunya belum sempat terwujud.
Aku juga sudah menandai beberapa concert yang ingin kami saksikan. Aku masih mengingat ekspresi excited yang tulus itu. Dan aku ingin melihatnya lagi.
Semua itu sudah terasa sangat nyata dalam pikiranku.
Aku tak sabar menunggu momen itu tiba.
Namun semesta atau mungkin kenyataan, bergerak ke arah lain.
Hubungan itu berakhir.
Aku tak lagi mampu berpura‑pura tidak terlibat dalam keputusan itu. Mungkin aku juga ikut memengaruhi perubahan perasaan itu. Mungkin kehadiranku tidak sepenuhnya seperti yang kuduga. Mungkin aku terlalu sibuk merencanakan sesuatu hingga lupa menilai kondisi saat ini, kondisi yang sebenarnya.
Sejak itu, aku merasa kehilangan tidak hanya seseorang, melainkan juga versi masa depan yang sudah aku rencanakan untuknya.
Aku mulai menyalahkan diri sendiri. Terlalu sering.
Pertanyaan-pertanyaan berulang muncul di kepalaku:
Apakah aku kurang ideal?
Apakah aku terlalu yakin semuanya baik-baik saja?
Atau… apakah sudah ada yang membuatnya lebih nyaman?
Aku berusaha mengerti semuanya dengan memutar memori berulang kali, sambil mencari titik di mana semuanya berubah.
Pikiranku terus berputar, mencoba menemukan jawaban agar rasa sakit terasa lebih masuk akal. Namun pada akhirnya, tidak semua hal memiliki penjelasan.
Tidak hanya kehilangan dia yang terasa berat, namun juga hilangnya sisi diriku yang pernah bersemangat membangun sesuatu bersama seseorang.
Perlahan, aku mulai melepaskan banyak hal.
Aku menjual koleksi merchandise band yang selama ini menjadi bagian dari identitasku, hal-hal yang telah aku kumpulkan bertahun-tahun. Tiba-tiba aku kehilangan minat pada sesuatu yang dulu membuatku begitu hidup. Seolah aku sedang bersiap meninggalkan versi diriku yang lama.
Di titik itu, aku menyadari bahwa aku tidak dalam kondisi baik.
Aku memutuskan untuk berbicara dengan profesional, mencoba membuka ruang agar bisa melihat semuanya dengan lebih jernih.
Melalui proses itu, aku menyadari bahwa tidak semua hal sesederhana yang kubayangkan. Mungkin aku belum memahami sepenuhnya cara seseorang mencintai. Mungkin aku terlalu terpusat pada sudut pandangku sendiri. Dan tanpa kusadari, ada banyak faktor lain yang turut menentukan akhir hubungan ini.
Selama ada jarak, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Di ruang kerja, dalam rutinitas yang berulang: bermain game, mendengarkan musik, menonton film, membaca buku.
Aku jarang keluar rumah, kecuali untuk hal yang benar-benar perlu. Bukan karena aku tidak merasa perlu untuk bertemu dengannya—justru sebaliknya. Ibuku ingin mengenalnya secara langsung. Dan jika aku pergi, aku diharuskan membawanya ke rumah.
Tapi saat itu aku belum siap.
Ada rasa canggung, ada ketakutan. Ada dinamika keluarga yang belum selesai. Semua itu, tanpa kusadari, membentuk cara aku menjalani hubungan ini.
Aku mulai menyadari, bahwa pada waktu itu hidupku belum sepenuhnya terbuka. Dan mungkin, itu juga memengaruhi bagaimana semuanya berjalan.
Aku tidak lagi ingin mencari siapa yang harus disalahkan.
Juga tidak lagi merasa perlu memberikan klarifikasi.
Saat ini, aku sudah berada di tahap menerima.
Menerima bahwa hubungan ini telah berakhir.
Menerima bahwa tidak semua rencana dapat terwujud.
Menerima bahwa aku harus hidup berdampingan bersama luka dari konsekuensi atas pilihanku sendiri.
Mungkin pada saat ini, pengertian cinta menjadi lebih sederhana: cinta bukanlah tentang memeluk, melainkan tentang memberikan kebebasan, meskipun itu berarti harus melepaskan.
Aku mulai menyadari, bahwa melepaskan bukanlah bentuk ketidakhadiran, melainkan cara paling jujur untuk menerima, karena tidak semua hal harus dipertahankan.
Seperti dua hal yang pernah berada dalam orbit yang sama, saling mendekat karena tarikan yang terasa begitu kuat, hingga akhirnya perlahan menjauh ketika lintasannya berubah. Tidak ada yang benar-benar salah, hanya saja, kita tidak lagi bergerak dalam garis yang sama.
Aku tidak akan lagi berusaha menariknya kembali ke orbitku. Aku membiarkannya melanjutkan jalurnya sendiri.
Dan mungkin, yang tersisa sekarang bukan lagi pertanyaan tentang siapa yang salah, tapi kesadaran bahwa ada kesempatan yang pernah ada dan tidak dijaga sepenuhnya.
Bahwa mencintai itu tentang memberi ruang, dan kali ini, aku belajar bahwa memberi ruang tetap membutuhkan keberanian untuk hadir, bahkan jika pada akhirnya harus saling melepaskan.
Aku menulis ini tepat sebelum hari kemenangan. Hari ketika banyak orang merayakan setelah satu bulan penuh berpuasa.
Bagiku, ini juga tentang merayakan kehilangan.
Merayakan bahwa aku akhirnya bisa menutup kisah ini, sampai akhir.
Ini adalah tulisan terakhirku tentang sebuah hubungan personal. Sebuah penanda bahwa aku pernah kehilangan, satu kali lagi.
Namun kali ini, aku memilih… ini yang terakhir.
Dan mungkin, pada akhirnya, aku juga ingin berterima kasih.
Terima kasih karena pernah hadir, karena pernah membuatku percaya lagi, dan dengan cara yang tidak mudah, membuatku belajar memahami cara mencintai dengan lebih jujur.
Dan jika semesta masih menyisakan kemungkinan, aku harap kita bisa bertemu lagi, setidaknya satu kali. Namun jika tidak, aku harap hidup memperlakukanmu dengan lembut.

Ini adalah bagian penutup dari rangkaian sebuah arsip—On Presence, Absence, And Letting Go.
Leave a comment