Perfect Days dan Kerapuhan

By

Pagi tadi aku menonton Perfect Days, film yang sudah lama jadi watchlist. Film ini tak menyuguhkan adegan megah, tak ada konflik dramatis atau alur yang rumit, ia hanya menyoroti keseharian Hirayama, seorang pria yang menjalankan rutinitas harian secara sederhana. Mulai dari bangun pagi, merapikan tempat tidur, membersihkan toilet umum di Tokyo, mendengarkan musik dari kaset tua di mobil, memotret pepohonan, hingga membaca buku sebelum tidur.

Hari-harinya memang terasa begitu monoton, namun melalui hal sederhana itulah muncul rasa kejujuran yang kuat, mengajarkan bahwa kehidupan terus berjalan meski tak ada yang memperhatikannya.

Setelah film usai aku terdiam dan coba mengerti mengapa kisah yang sangat sederhana itu begitu selaras dengan perasaanku dua tahun belakangan ini. Aku menyadari satu hal kecil yang entah mengapa terasa penting untuk diakui secara jujur pada diri sendiri, dalam hati kecilku ada keinginan manusiawi untuk dirayakan oleh seseorang. Seseorang yang memilihku, agar kehadiranku dalam hidupnya bukan sekadar lewat, melainkan sesuatu yang dipilih secara sadar.

Pikiran seperti “aku juga ingin dirayakan olehnya, seperti ia merayakan teman-teman lelakinya” sering muncul. Tak perlu perayaan megah atau dengan video montage berlatar musik Fix You dari Coldplay, cukup hal-hal kecil yang membuatku percaya dan merasakan bahwa keberadaanku tak perlu disembunyikan untuk ia tampilkan di dunianya.

“I want to believe, I look at the sky and I feel nothing.”
— Phoebe Bridgers

Setiap kali melihat cara ia merayakan teman-temannya dengan mudah, dengan kebanggaan yang tampak alami, aku merasakan kembali sesuatu yang lama tak kurasakan, rasa cemburu yang beralih menjadi keraguan pada diri sendiri. Aku menyimpulkan bahwa mungkin aku bukan orang yang “ideal” untuk ia perlihatkan dalam hidupnya.

Perasaan itu tidak muncul sekaligus, melainkan berkembang perlahan seperti kabut yang menebal, tanpa kusadari kapan tepatnya pertama kali terasa. Cukup untuk menyimpannya sendiri, karena menyadari bahwa tidak semua perasaan memiliki solusi.

“I don’t know why people are so keen to put the details of their private life in public, they forget that invisibility is a superpower” – Banksy

Di era digital saat ini menjadi pribadi tertutup sering dianggap sebagai kekuatan. Aku memahami logika seperti itu, bahkan mungkin sebagian diriku selama ini memang memilih jalur serupa, untuk menghindari sorotan, tak menonjolkan diri. Namun bila harus jujur pada diri sendiri, masih ada satu sudut kecil di hati yang sesekali menginginkan sesuatu hal cukup sederhana, ingin merasakan dipilih, setidaknya sekali, atau kalau tidak mungkin cukup satu detik saja, satu momen kecil yang membuatku terasa terlihat dan layak dirayakan.

Aku ingin tahu bahwa keberadaanku membawa kebanggaan bagi seseorang. Bahwa ketika orang itu melihatku, ia tidak hanya melihat “orang yang kebetulan ada”, melainkan seseorang yang ia senang miliki dalam hidupnya.

Sartre pernah menulis bahwa manusia memahami diri melalui pandangan orang lain “the look of the other”. Dari pandangan itu kita belajar melihat diri kita sendiri, namun apa yang terjadi bila pandangan itu tak pernah hadir? Saat kita ada dalam hidup seseorang, namun keberadaan kita tak pernah benar-benar terlihat.

Sering kali kita baru menyadari perasaan itu setelah semuanya selesai, ketika hubungan telah berakhir dan kita menengok kembali hal-hal yang dulu terasa biasa.

Mungkin di titik inilah nihilisme terasa logis, karena beberapa aspek kehidupan tidak selalu memiliki arti penting seperti yang kita harapkan. Sehingga hubungan, pengakuan, bahkan rasa bangga yang kita inginkan dari orang lain mungkin tidak akan pernah terwujud.

Itulah mengapa Perfect Days terasa begitu dekat, karena dalam film itu tak ada yang benar-benar merayakan hidup Hirayama, namun ia tetap menjalani hari-hari dengan ketenangan yang anehnya cukup, seolah-olah ia sudah memahami sesuatu yang baru kusadari, hidup tidak selalu memerlukan saksi.

Tidak berarti harus menyerah pada hidup, kadang cukup dengan satu hal sederhana, memperpanjang hari-hari sedikit itu. Saat ini saya sedang belajar bahasa Jerman, mungkin ini seperti janji kecil yang saya buat kepada diri sendiri, bahwa saya akan tetap berjalan memperpanjang hari-hari sedikit, setidaknya sampai kelas itu selesai, dan ketika hari itu tiba saya ingin merayakannya dengan cara yang sangat sederhana.

Merayakan untuk kemenangan‑kemenangan kecil itu, karena sekarang saya sadari, perayaan tak akan pernah datang dari seseorang yang kita harapkan.

Posted In ,

Leave a comment