a letter to lana…

By

Pagi tadi dimulai dengan hal yang cukup sederhana. Saya menyalakan musik bahkan sebelum benar-benar membuka mata. Entah sejak kapan itu jadi kebiasaan. Bukan karena ingin mendengarkan sesuatu secara serius, tapi lebih karena rasanya aneh kalau pagi dimulai dalam keadaan terlalu sunyi.

Lagu pertama yang muncul adalah lagu lama dari Lana Del Rey. Lagu yang dulu sering saya putar ketika sedang berjalan malam, atau ketika sedang menunggu seseorang datang. Musik memang punya cara aneh untuk menyimpan waktu. Begitu intro-nya terdengar, ingatan sering langsung berjalan sendiri—membuka kembali suasana yang sebenarnya sudah lama lewat.

Saya duduk di pinggir tempat tidur sambil membiarkan lagu itu selesai. Tidak ada perasaan dramatis, hanya semacam kesadaran kecil bahwa dulu ada masa ketika saya benar-benar percaya pada seseorang.

Percaya dalam arti yang sederhana. Saya percaya pada kata-katanya.

Cara dia berbicara tentang masa depan. Cara dia menjelaskan hal-hal yang menurutnya penting dalam sebuah hubungan. Tentang konsistensi, tentang komitmen kecil, tentang bagaimana dua orang seharusnya saling menjaga apa yang sudah mereka ucapkan.

Saat itu semuanya terdengar masuk akal. Bahkan terasa tulus. Tidak ada alasan untuk meragukannya.

Kadang kita memang begitu. Ketika seseorang berbicara dengan cukup yakin dan cukup tenang, kita tidak merasa perlu mempertanyakan terlalu jauh. Kita tidak sedang mencari kontradiksi. Kita hanya mendengarkan, lalu tanpa sadar mulai menata ruang kecil di kepala kita berdasarkan apa yang mereka katakan.

Bukan sesuatu yang besar. Hanya bayangan sederhana tentang bagaimana semuanya akan berjalan. Kebiasaan kecil yang akan terus ada. Cara dua orang menjaga kata-kata yang pernah mereka ucapkan.

Tapi menjalani sesuatu ternyata sering jauh lebih rumit daripada mengatakannya.

Perubahan itu datang pelan-pelan. Tidak ada satu hari tertentu yang bisa saya tunjuk sebagai awalnya. Tidak ada kalimat yang secara jelas mengatakan bahwa semuanya sudah berbeda.

Lebih seperti jarak yang perlahan muncul.

Beberapa hal yang dulu diucapkan dengan yakin mulai terasa tidak lagi terlalu penting baginya. Beberapa sikap berubah tanpa banyak penjelasan. Hal-hal yang dulu terdengar seperti prinsip tiba-tiba menjadi sesuatu yang tidak lagi terlalu ditekankan.

Di titik itu, perasaan saya bukan benar-benar marah atau kecewa. Lebih seperti mulai bertanya-tanya.

Saya mulai memikirkan kembali kata-kata yang dulu pernah diucapkan. Apakah saat itu memang dimaksudkan seutuh yang saya pahami? Atau mungkin saat itu semua terasa benar bagi dia, tapi seiring waktu pandangannya memang berubah?

Semakin saya pikirkan, semakin terasa bahwa mungkin masalahnya bukan soal benar atau salah. Lebih soal bagaimana setiap orang memegang kata-katanya dengan cara yang berbeda.

Bagi sebagian orang, kata-kata adalah sesuatu yang harus dijaga konsistensinya. Bagi yang lain, kata-kata mungkin lebih seperti refleksi dari perasaan pada saat itu—sesuatu yang bisa berubah bersama waktu.

Dan mungkin saya baru menyadari perbedaan itu setelah semuanya berjalan cukup jauh.

Lucunya, perasaan bertanya-tanya seperti ini mengingatkan saya pada pengalaman lain yang datang dari arah yang sama sekali berbeda. Beberapa waktu lalu saya mengetahui bahwa Lana Del Rey, musisi yang cukup sering saya dengarkan, mengambil posisi politik yang bagi saya terasa sangat sulit dipahami—sebuah sikap yang oleh banyak orang dianggap berpihak pada genosida.

Saya tahu perbandingan ini terdengar aneh. Hubungan personal tentu tidak sama dengan hubungan kita dengan seorang musisi.

Tapi ada kesamaan kecil di sana.

Kita sering membangun bayangan tentang seseorang dari hal-hal yang mereka tampilkan. Dalam hubungan personal, bayangan itu datang dari kata-kata dan sikap mereka. Dalam musik, bayangan itu datang dari lirik dan suasana yang mereka ciptakan.

Ketika kenyataannya tidak sepenuhnya sesuai dengan bayangan itu, rasanya bukan seperti sesuatu yang hancur, tapi lebih seperti menemukan bahwa seseorang ternyata memiliki sisi yang sebelumnya tidak kita lihat.

Hal-hal seperti ini sering membuat saya berpikir tentang bagaimana kepercayaan bekerja. Bukan hanya dalam hubungan antar manusia, tapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Sejarah penuh dengan cerita tentang orang-orang yang pernah percaya pada janji tertentu, lalu suatu hari mulai mempertanyakan kembali bagaimana janji itu dijalankan.

Salah satu contoh yang sering disebut adalah Paris Commune pada tahun 1871. Ketika para pekerja di Paris mencoba mengelola kota mereka sendiri setelah lama merasa bahwa sistem politik yang ada tidak benar-benar mewakili mereka. Eksperimen itu tidak berlangsung lama, tapi meninggalkan gagasan bahwa masyarakat bisa mencoba mengatur dirinya sendiri dengan cara yang berbeda.

Beberapa dekade kemudian, semangat yang mirip muncul lagi dalam Spanish Revolution of 1936, ketika pekerja dan petani di berbagai wilayah Spanyol mencoba menjalankan komunitas mereka secara kolektif.

Banyak pemikir anarkis melihat peristiwa-peristiwa itu sebagai cara untuk mempertanyakan kembali bagaimana kekuasaan seharusnya bekerja.

Tokoh seperti Mikhail Bakunin pernah menulis kalimat yang sering dikutip:

“The urge to destroy is also a creative urge.”

Bukan dalam arti bahwa kehancuran selalu diperlukan, tapi kadang sesuatu memang perlu dipertanyakan atau dibongkar agar ruang baru bisa muncul.

Sementara Emma Goldman pernah mengatakan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

“If I can't dance, I don't want to be part of your revolution.”

Kalimat itu selalu terasa menarik karena mengingatkan bahwa perubahan sosial pada akhirnya tetap tentang kehidupan manusia sehari-hari—tentang bagaimana orang hidup, bergerak, dan merasa bebas di dalamnya.

Saya tidak tahu apakah semua ini benar-benar punya hubungan langsung dengan pengalaman personal seperti tadi.

Tapi kadang saya merasa pola dasarnya mirip.

Kita percaya pada sesuatu. Lalu suatu hari kita mulai melihatnya dari sudut yang sedikit berbeda. Bukan selalu karena ada yang salah, tapi karena kita mulai memahami bahwa kenyataan sering lebih kompleks daripada apa yang pernah kita bayangkan.

Playlist pagi tadi sudah selesai sejak lama. Musik berhenti tanpa saya sadari. Kopi di meja juga sudah dingin.

Hari di luar jendela berjalan seperti biasa. Orang-orang tetap pergi bekerja. Kendaraan tetap lewat di jalan.

Dunia tidak benar-benar berubah hanya karena seseorang mulai mempertanyakan kembali kata-kata yang pernah ia percaya.

Tapi mungkin pengalaman seperti itu tetap meninggalkan sesuatu.

Bukan dalam bentuk kekecewaan, tapi lebih seperti kesadaran kecil bahwa manusia—termasuk kita sendiri—sering mengatakan sesuatu dengan keyakinan penuh pada satu waktu, lalu melihatnya secara berbeda di waktu yang lain.

Dan mungkin memahami hal itu membuat kita sedikit lebih hati-hati, tapi juga sedikit lebih tenang, ketika mendengar kata-kata tentang masa depan.

Posted In ,

Leave a comment